Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Sandiaga Uno Tantang Wisudawan Paramadina: Jangan Hanya Jadi Pencari Kerja, Jadilah Pencipta Peluang

S Samsuddin • 08 Nov 2026 • 0 komentar
Sandiaga Uno Tantang Wisudawan Paramadina: Jangan Hanya Jadi Pencari Kerja, Jadilah Pencipta Peluang
Dr. Sandiaga Salahuddin Uno dalam Wisuda ke-45 Universitas Paramadina di Jakarta, Sabtu (7/11). Wedha/Putraindonews

Putraindonews.com, Jakarta – Tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif menuntut lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan ijazah dan kemampuan akademik. Integritas, inovasi, kemampuan beradaptasi, serta keberanian membangun peluang menjadi bekal penting untuk menghadapi perubahan zaman.

Pesan tersebut disampaikan Dr. Sandiaga Salahuddin Uno saat menjadi orator ilmiah dalam Wisuda ke-45 Universitas Paramadina di Jakarta, Sabtu (7/11/2026).

Baca JugaMensesneg Ungkap Istana sedang 'Bersih-Bersih Pasca Penyadapan

Di hadapan para wisudawan, Sandiaga mengingatkan bahwa realitas ketenagakerjaan saat ini tidak sederhana. Persaingan mendapatkan pekerjaan semakin menantang, sementara kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia usaha maupun industri masih menjadi persoalan.

“Apakah mencari kerja sekarang gampang atau susah? Susah atau susah banget?” ujar Sandiaga, menggambarkan situasi yang harus dihadapi generasi muda ketika memasuki dunia profesional.

Baca JugaKepala BIN Ungkap Penyadapan Ilegal Bisa Mengarah ke Makar

Ia menyoroti sejumlah tantangan ketenagakerjaan nasional, mulai dari pengangguran, risiko terjebak dalam kelompok pendapatan menengah (middle-income trap), hingga belum optimalnya penyerapan potensi anak muda.

Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah missing potential, yakni potensi generasi muda yang belum sepenuhnya terserap dalam kegiatan produktif.

Baca JugaBMKG Sebut Gempa Tektonik di Sigi Dipicu Aktivitas Sesar Palolo

“Hampir 20% dari anak-anak muda kita itu berada dalam kategori NEET. Tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan,” ungkapnya.

Menurut Sandiaga, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama. Generasi muda tidak cukup hanya menunggu tersedianya lapangan pekerjaan, tetapi perlu mengambil peran dalam menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan produktivitas masyarakat.

Baca JugaJenderal Listyo Dicpot dari Dewan Penasihat KSPSI

Gelar Akademik Harus Menghasilkan Manfaat

Sandiaga mengingatkan para lulusan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semestinya berhenti pada pencapaian gelar akademik, jabatan, atau penghasilan.

Lebih dari itu, ilmu pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kuliah harus diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
“Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat. Betul atau betul?” ujarnya.

Baca JugaGunung Semeru Muntahkan Awan Panas

Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa alumni perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial setelah menyelesaikan pendidikan. Gelar akademik bukan garis akhir, melainkan awal perjalanan untuk mengimplementasikan pengetahuan, menjaga nilai-nilai moral, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Integritas Tidak Boleh Kalah oleh Kompetensi

Dalam orasi ilmiahnya, Sandiaga juga menempatkan integritas sebagai fondasi utama kepemimpinan dan profesionalisme.

Baca JugaRumah Aspirasi Nurhadi Hadir di Ngrejo dan Sidomulyo: Warga Bakung Bisa Titip Aspirasi Langsung ke Senayan

“Integritas adalah landasan dari kepemimpinan. Tidak ada pemimpin yang mumpuni kalau integritas tidak diperbaiki,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa kemampuan akademik, kecerdasan intelektual, dan keahlian profesional harus berjalan seiring dengan karakter yang kuat.

Baca JugaPemerintah Rencana Buka Tes CPNS Tahun Ini

Prinsip Character Over Competence menjadi pengingat bahwa kompetensi tinggi tidak akan cukup apabila tidak disertai kejujuran, tanggung jawab, konsistensi, dan komitmen terhadap nilai moral.

Sandiaga juga mendorong para lulusan membangun pola pikir inovatif dalam menghadapi persoalan.

Baca JugaResmikan Sekretariat "Rumah Besar", IMO-Indonesia Uji Coba Aplikasi AdS Media Online

“Mindset inovatif diperlukan untuk menghadapi tantangan dan mencari solusi, bukan sekadar mengeluh,” katanya.
Dengan pola pikir tersebut, setiap persoalan diharapkan dapat menjadi ruang untuk mencari terobosan, memperbaiki keadaan, dan menciptakan nilai tambah.

Entrepreneurial Mindset: Bukan Sekadar Membangun Bisnis

Memasuki dunia industri, Sandiaga menilai para wisudawan perlu memiliki entrepreneurial mindset atau pola pikir kewirausahaan.

Baca JugaHari Fraksi Jadikan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Blitar Lebih Maksimal Serap Aspirasi Masyarakat

Menurutnya, kewirausahaan bukan hanya keterampilan bagi seseorang yang ingin mendirikan perusahaan atau menjalankan bisnis. Pola pikir tersebut juga dibutuhkan oleh pekerja profesional, aparatur, maupun individu yang berkarier di berbagai organisasi.

“Entrepreneurship is not a profession, tapi entrepreneurship is a mindset. Sebuah pola pikir,” ujarnya.

Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah Rakyat

Pola pikir kewirausahaan mendorong seseorang untuk lebih proaktif, mampu membaca peluang, berani mengambil inisiatif, serta berorientasi pada penyelesaian masalah.

Sandiaga berharap para lulusan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja (job creator) dan penggerak inovasi.

Baca JugaMensesneg Ungkap Istana sedang 'Bersih-Bersih Pasca Penyadapan

“Mindset seorang pemenang adalah mindset inovasi,” katanya.

Ia menambahkan, generasi muda harus mampu menghadirkan solusi melalui penciptaan kesempatan kerja, bukan sekadar menunggu peluang yang tersedia.

“Bukan menambah masalah dengan mencari pekerjaan, tapi kita memberikan solusi dengan mendorong terciptanya lapangan kerja,” tambahnya.

Baca JugaKepala BIN Ungkap Penyadapan Ilegal Bisa Mengarah ke Makar

4AS dan 3SI sebagai Bekal Menghadapi Perubahan

Menutup orasi ilmiahnya, Sandiaga menitipkan pesan tentang pentingnya kerja keras dan kemampuan menghadapi perubahan melalui semangat 4AS dan nilai 3SI.

Konsep 4AS yang disampaikannya menekankan kerja keras secara konsisten, sementara 3SI mencakup inovasi, adaptasi, dan kolaborasi.

Baca JugaBMKG Sebut Gempa Tektonik di Sigi Dipicu Aktivitas Sesar Palolo

Kerja keras menjadi modal untuk menghadapi persaingan. Inovasi diperlukan untuk melahirkan gagasan dan solusi baru. Adaptasi membantu seseorang merespons perubahan, sedangkan kolaborasi membuka ruang untuk membangun kekuatan bersama.

Ketiga nilai tersebut dinilai penting bagi generasi muda agar tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan, tetapi juga berkembang dan menciptakan peluang di tengah dinamika dunia kerja.

Baca JugaJenderal Listyo Dicpot dari Dewan Penasihat KSPSI

Paramadina Dorong Lulusan Menjadi Generasi Berdampak
Melalui Wisuda ke-45, Universitas Paramadina kembali menegaskan komitmennya dalam melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik dan profesional, sekaligus menjunjung tinggi integritas, kepedulian sosial, serta jiwa kepemimpinan.

Pesan Sandiaga menjadi refleksi bahwa keberhasilan seorang sarjana tidak semata-mata ditentukan oleh posisi pekerjaan, besarnya penghasilan, atau pencapaian karier.

Baca JugaGunung Semeru Muntahkan Awan Panas

Ukuran keberhasilan juga terletak pada kemampuan menjaga integritas, menghadirkan inovasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Wisuda bukanlah akhir dari proses belajar. Sebaliknya, momentum tersebut menjadi awal perjalanan baru bagi para alumni untuk membuktikan bahwa ilmu pengetahuan, karakter, dan semangat kewirausahaan dapat memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia. Red/GW

Baca JugaRumah Aspirasi Nurhadi Hadir di Ngrejo dan Sidomulyo: Warga Bakung Bisa Titip Aspirasi Langsung ke Senayan

Bagikan berita:

Berita Terkait