Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Sundang Borneo di Mindanao dan Sulu

S Samsuddin 10 Nov 2020 0 komentar
Sundang Borneo di Mindanao dan Sulu

Putraindonews.com, Kalimantan - Sepintas dari kejauhan sosok Sundang mirip keris. Hanya saja, perawakan bilahnya lebih besar, lebih panjang dan lebih terkesan berpenampilan senjata ketimbang pusaka seperti keris.

Dikenal sebagai senjata tradisional berbentuk keris-pedang sabet-suduk Kalimantan (Borneo) dan pada masanya dipakai di Mindanao serta Kepulauan Sulu di Filipina.

Baca JugaPaku Buwana XIV Hangabehi Adakan Upacara Kenaikan Tahta

Panjang bilah Sundang biasanya lebih dari setengah meter – bisa berkisar antara 57,5 cm sampai 67,5 cm.

Bandingkan dengan keris yang rata-rata 32-37 cm.

Ada Sundang yang memakai luk (lekuk) seperti keris, ada yang lurus ada pula kombinasi luk dan lurus namun umumnya pucuknya majal (tidak runcing) bilah lebar merata dengan bagian tengah bilah cekung memanjang ke pucuk.

Baca JugaTelah Lahir Pasinrilik Perempuan Pertama dari Sanggar Seni Antara Nusantara Gowa

Berbeda dengan keris, yang sebenarnya “lemah” sebagai senjata perang, maka orang-orang Moro pun mengatasinya dengan membuat pesi (bagian besi panjang, yang ada di dalam hulu keris) bukan bulat. Akan tetapi persegi melebar, kokoh, sehingga tidak melintir jika senjata itu disabetkan seperti layaknya pedang.

Juga, pegangannya diperkuat dengan semacam “pita besi” melilit pangkal pegangan, sehingga membuat pegangan tidak melintir jika senjata diayunkan dan disabetkan.

Baca JugaBupati Blitar: Jamasan Gong Kyai Pradah 2026 Manivestasi Pelestarian Pariwisata Seni Budaya

Bilahkan diperkuat dengan semacam cincin (biasanya perak), yang mengikat dua bagian terpisah antara bilah dan ganja di pangkal bilah. Mereka sebut cincin khas itu sebagai Baca-baca.

Pengaruh bentuk keris terasa pada penampilan bilah Sundang, terutama pada sisi sor-soran atau pangkal bilah – asimetris dan ada semacam ricikan sekar kacang (di Sundang lebih menyerupai belalai gajah) – serta ada bagian dasar bilah yang terpisah dari bilah atasnya, yang di keris disebut ganja, atau gonja. Ada grenengnya, tetapi motifnya sangat berbeda dengan greneng pada keris.

Baca JugaPengalaman Baru Bakal Dihadirkan Bus TransJakarta per Agustus Mendatang

Dari mana Sundang berasal? Ini sungguh menarik dirunut.

Yang jelas, persebarannya tidak hanya di Mindanao dan kepulauan Sulu di Filipina Selatan, atau Kalimantan (Borneo) Utara, akan tetapi juga ada di wilayah Sumatera, Melayu dan bahkan Bugis di Sulawesi.

Baca JugaFestival Cisadane 2026, 'Lestarikan Budaya'

Pelaut penjelajah dari Portugis, Ferdinand Magellan (dalam bahasa Porto ditulisnya Fernão de Magalhães) ketika mendarat di Filipina Selatan pada 1521 Masehi, termasuk di Pulau Mindanao dan Kepulauan Sulu, ia mendapati orang-orang suku bangsa Moro di wilayah itu sudah memeluk agama Islam.

Pada tahun 1565, bangsa Spanyol menguasai Filipina. Semenjak itu, selama 333 tahun, Filipina di bawah kekuasaan Spanyol.

Baca JugaIntegrasi SID, Website dan Medsos Jadi Kunci Promosi Potensi Desa

Meski demikian, penduduk-penduduk di Mindanao serta Kepulauan Sulu di Filipina Selatan adalah pemeluk agama Islam.

Orang-orang Spanyol menyebut mereka, bangsa Moro (Moors, artinya Muslim). Suku bangsa di Filipina Selatan ini terus berjuang melawan orang-orang Kristen Spanyol, dan Moro tetap Muslim sampai saat ini. (Karsten Sejr Jensen, 2006).

Baca JugaAmelia Sajidah, Travel Creator Mengangkat Indonesia Timur Punya Cerita

Bangsa Moro sangat ditakuti dan disegani di Laut China Selatan, serta Lautan Sulu tidak hanya sebagai pedagang dan pelaut, akan tetapi juga bajak laut.

Jika melaut? Para bajak laut dari Moro ini tidak jarang, memakai pasukan kapal yang jumlahnya seratusan, bahkan lebih! Kapal-kapal bajak laut Moro ini banyak yang dibangun dengan bentuk seperti armada Romawi, dengan pendayung yang banyaknya tiga geladak.

Baca JugaGubernur Koster Lepas Peed Aya, Tandai Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII

Armada Moro dipersenjatai dengan meriam, dan jumlah awak kapalnya mencapai 150-an orang…

Wilayah jelajah bajak laut Moro ini luas. Bahkan sempat membangun pelabuhan di Selatan Sumatera pada akhir abad ke-18, mencegati kapal-kapal yang melewati Selat Sunda.

Baca JugaWorkshop Karya Ceria Bahas Pemahaman Budaya Sirik na Pacce, dan Penerapannya dalam Pameran Seni Media Disabilitas

Atau menyerang orang-orang Jawa yang ada di pesisir serta menjadikannya budak belian.

Sepak terjang bajak laut bangsa Moro ini terhenti setelah kedatangan bangsa Amerika di akhir abad ke-19 ke wilayah ini.

Baca JugaFestival Budaya Terbesar di Indonesia: Meriahnya Perayaan Keberagaman

Bajak-bajak laut Moro pun disapu habis oleh pasukan laut Amerika. (Karsten Sejr Jensen, 2006)

Beberapa jenis Sundang. Umumnya dibagi menjadi tiga jenis, yakni Sundang Espada (lurus), Sundang Seko (luk atau berlekuk banyak), dan Sundang Ranti (kombinasi antara luk di pangkal bilah dan lurus di ujung).

Baca JugaPaku Buwana XIV Hangabehi Adakan Upacara Kenaikan Tahta

Panjang bilah rata-rata di atas 60 cm, sampai 67,5 cm. Bandingkan dengan keris yang hanya 36-38 cm saja. (Repro KrisDisk Karsten Sejr Jensen, 2006)

Keris-keris Sundang Bangsa Moro yang besar, berat dan panjang – bahkan boleh dikatakan terbesar dan terpanjang di antara berbagai jenis keris di Nusantara — memberi kesan kuat akan naluri menyerang dan juga naluri bela diri manusia laut dari Filipina Selatan ini.

Baca JugaTelah Lahir Pasinrilik Perempuan Pertama dari Sanggar Seni Antara Nusantara Gowa

Keindahan yang khas Sundang Moro — baik hiasan pegangannya maupun detil bilahnya, tidak mengurangi kesan bahwa Sundang adalah benar-benar senjata untuk berperang. Sundang ditempa lipat persis seperti teknologi keris di Indonesia.

Bukan teknologi asli bangsa Moro, tampilannya yang sangat khas membuat Sundang dilabel sebagai senjatanya bangsa Filipina Selatan.

Baca JugaBupati Blitar: Jamasan Gong Kyai Pradah 2026 Manivestasi Pelestarian Pariwisata Seni Budaya

Teknologi tempanya, boleh mencontoh dan bahkan mengimpor dari Borneo di wilayah pesisir Kalimantan Utara.

Akan tetapi, bentuknya? Kombinasi antara pedang bangsa Spanyol, Toledo yang terkenal itu dan tampilan keris dari Jawa. (Karsten Sejr Jensen, 2006).

Baca JugaPengalaman Baru Bakal Dihadirkan Bus TransJakarta per Agustus Mendatang

Dalam catatan penulis keris asal Denmark, Karsten Sejr Jensen yang juga seorang Psikoanalis, sundang-sundang tua lebih banyak ditempa oleh para Tendong atau Tanjong (empu pembuat sundang) suku Dayak di Kalimantan – lantaran Kalimantan memang salah satu sumber biji besi yang penting ketimbang Filipina pada masanya.

Empu-empu Sundang di Borneo itu umumnya juga Muslim.

Baca JugaFestival Cisadane 2026, 'Lestarikan Budaya'

Pesanan Sundang tak hanya datang dari Filipina saja, akan tetapi juga bangsawan-bangsawan Brunei di wilayah Borneo (Kalimantan) Utara.

Orang-orang Moro mengelompokkan Sundang ada tiga macam. Keris Sundang yang bilahnya hanya lurus, disebutnya Sundang Espada (Matidto, Kalis Tulid).

Baca JugaIntegrasi SID, Website dan Medsos Jadi Kunci Promosi Potensi Desa

Sundang dengan luk banyak disebutnya Sundang Seko (Lanti, Kalis Seko). Sedangkan Sundang yang bilah bawahnya pakai luk, namun bilah atasnya lurus? Disebutnya Sundang Ranti (Luma, Kalis Taluseko).

Tempaan bilahnya ada yang berpamor. Oleh pemilik barunya, orang-orang Amerika ataupun orang Eropa yang menjajah Filipina, lebih suka ‘mewarnai’nya dengan semacam cairan warangan agar berwarna lebih gelap, dan muncul motif pamornya.

Baca JugaAmelia Sajidah, Travel Creator Mengangkat Indonesia Timur Punya Cerita

Sundang-sundang Moro sulit “ditangguh” (diperkirakan zaman pembuatannya). Hanya saja, sundang-sundang yang dibikin pada abad ke-18 atau lebih tua, umumnya lebih ramping dan lebih ringan tantingannya.

Suku Moro jumlahnya ada sekitar 10-13 suku. Sulit membedakan, Sundang dari suku yang mana, dengan hanya membedakan penampilan fisiknya.

Baca JugaGubernur Koster Lepas Peed Aya, Tandai Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII

Yang bisa dibedakan hanyalah Sundang yang dipakai raja, atau rakyat — dari perabot atau busana yang dipakai pada Sundang tersebut.

Yang jelas, hiasannya khas Moro. Dengan hulu Sundang pangkalnya berbentuk kepala burung kakaktua (disebutnya model Junggayan).

Baca JugaWorkshop Karya Ceria Bahas Pemahaman Budaya Sirik na Pacce, dan Penerapannya dalam Pameran Seni Media Disabilitas

Ini merupakan perwujudan simbol lokal, jika dibandingkan dengan Jawa atau Sumatera yang banyak memakai lambang garuda untuk burung.

Bagian sor-sorannya (pangkal bilah) umumnya diberi semacam klem dari perak, bisa satu bisa dua buah, untuk memperkuat ganja agar tidak copot. Klem, atau cincin perak ini disebutnya Baca-baca.

Baca JugaFestival Budaya Terbesar di Indonesia: Meriahnya Perayaan Keberagaman

Keris Moro tidak mengenal “mendhak” (cincin keris) seperti di Jawa, atau “selut”.

Keris Sundang Moro hanya diperkuat semacam cincin pita logam yang melingkari lubang pegangan – seperti layaknya “suh” di Jawa, atau penguat agar pegangan tak copot dari pesi. Tidak jarang, lilitan suh ini dari emas atau perak.

Baca JugaPaku Buwana XIV Hangabehi Adakan Upacara Kenaikan Tahta

Adapun hiasan pamor, kalau toh ada biasanya hanya di tengah cekungan bilah yang memanjang dari pangkal hampir menyentuh pucuk bilah.

Beberapa di antaranya, bahkan berpamor miring. Tetapi terbanyak, tanpa pamor tetapi pakai serasah, namun umumnya bahan besinya kokoh.

Baca JugaTelah Lahir Pasinrilik Perempuan Pertama dari Sanggar Seni Antara Nusantara Gowa

Guwaya atas kesan sosok Sundang? Lebih macho ketimbang keris, lantaran memang lebih dipakai senjata ketimbang disimpan sebagai barang pusaka…Red/Ben

Bagikan berita:

Berita Terkait