Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

The Lead Institute Paramadina: Cinta di Era Digital Harus Diarahkan dari Haus Validasi Menuju Solidaritas Sosial

S Samsuddin • 30 May 2026 • 0 komentar
The Lead Institute Paramadina: Cinta di Era Digital Harus Diarahkan dari Haus Validasi Menuju Solidaritas Sosial

Putraindonews.com, Jakarta – Fenomena haus validasi, budaya pencitraan, hingga ketakutan tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO) dinilai menjadi tantangan baru dalam membangun hubungan yang sehat di era digital. Di tengah derasnya arus media sosial, masyarakat semakin dihadapkan pada relasi yang rapuh, instan, dan mudah dipengaruhi tren sesaat.

Persoalan tersebut mengemuka dalam Kajian Filsafat dan Agama 2026 Seri Kedua bertema “Hubbud-Dunya di Era Digital” yang diselenggarakan The Lead Institute Universitas Paramadina bekerja sama dengan MaHa Indonesia, Pray Foundation, dan Pratita Foundation pada Jumat (29/5/2026).

Baca JugaHari Fraksi Jadikan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Blitar Lebih Maksimal Serap Aspirasi Masyarakat

Diskusi yang dimoderatori Peneliti The Lead Institute, Nurma Komala, itu membedah konsep cinta melalui dua perspektif besar, yakni pemikiran filsuf Madzhab Frankfurt, Erich Fromm, yang dikenal lewat karya The Art of Loving, serta pandangan cendekiawan muslim Indonesia, Nurcholish Madjid atau Cak Nur, mengenai cinta sebagai jalan spiritual menuju Tuhan.Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yayah Khisbiyah, menjelaskan bahwa Erich Fromm memandang cinta sebagai sebuah seni yang harus dipelajari, dilatih, dan dipraktikkan secara sadar dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Yayah, manusia modern sering kali lebih sibuk berupaya menjadi sosok yang layak dicintai dibandingkan belajar bagaimana mencintai orang lain secara tulus.

Baca JugaBerbagi Semangat dan Harapan, Pangdam Udayana Motivasi Siswa Sekolah Rakyat

“Cinta, dalam pandangan Fromm, bukan kepemilikan dan bukan pula hubungan yang transaksional, melainkan tindakan aktif yang ditandai oleh perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan terhadap orang lain,” ujar Yayah.

Ia menilai budaya media sosial yang sarat pencitraan dan pencarian pengakuan membuat hubungan antarmanusia rentan menjadi dangkal. Banyak orang mengejar validasi publik, tetapi kehilangan kedekatan sosial yang autentik dan bermakna.

Baca JugaAlat Sadap yang Dipakai Listyo Harganya Triliunan

Karena itu, Yayah menekankan bahwa cinta seharusnya dipahami sebagai energi sosial yang diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk kepedulian terhadap kelompok marjinal, masyarakat rentan, dan pelestarian lingkungan hidup.

“Cinta dalam konteks kemanusiaan universal bukan sekadar emosi privat tetapi mesti dimaknai sebagai energi positif dalam menjalin hubungan melalui tindakan-tindakan merawat kehidupan sosial dan kelestarian lingkungan hidup bersama,” katanya.Sementara itu, Ketua The Lead Institute, Suratno Muchoeri, mengulas pemikiran Nurcholish Madjid yang menempatkan cinta sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan atau taqarrub ilallah. Dalam pandangan Cak Nur, manusia perlu mewaspadai hubbud-dunya, yakni kecintaan berlebihan terhadap dunia dan simbol-simbolnya seperti harta, popularitas, serta kesenangan sesaat.

Baca JugaDua Prajurit TNI Meninggal Dunia dalam Insiden Kecelakaan Helikopter saat Padamkan Karhutla

Menurut Suratno, fenomena tersebut kini menemukan bentuk baru di era digital melalui budaya flexing, kecanduan gawai, obsesi terhadap viralitas, dan kebutuhan berlebihan akan pengakuan publik.

“Cak Nur menempatkan cinta bukan hanya sebagai urusan pribadi, tetapi juga sebagai energi moral dan spiritual yang membimbing manusia untuk lebih jernih, lembut, serta bertanggung jawab kepada sesama,” ujarnya.

Baca JugaMNC Bank Angkat Bicara Soal Nasabah Susah Tarik Uang

Alumni Universitas Goethe Frankfurt, Jerman, itu menambahkan bahwa cinta yang sehat tidak berhenti pada ranah emosional individu, melainkan tercermin dalam akhlak sosial, sikap hidup, dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Ia menegaskan bahwa baik Erich Fromm maupun Nurcholish Madjid sama-sama menolak konsep cinta yang dangkal dan berpusat pada egoisme. Keduanya memandang cinta sebagai kekuatan aktif yang mampu membebaskan manusia, membangun kedewasaan, serta memperkuat solidaritas sosial.

Baca JugaRicuh Penolakan Konser Andrea Bocelli di JIExpo

“Fromm dan Cak Nur sama-sama melihat bahwa cinta bukanlah sekadar emosi pasif yang datang dan pergi. Cinta adalah seni aktif, tindakan sadar dan komitmen,” tutur Suratno.

Melalui kajian tersebut, The Lead Institute Paramadina mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali makna cinta di tengah kehidupan digital yang semakin kompleks. Cinta, menurut para pembicara, tidak seharusnya berhenti pada pencarian validasi dan pengakuan, melainkan menjadi kekuatan yang mendorong lahirnya kepedulian sosial, tanggung jawab moral, dan kemanusiaan yang lebih luas. Red/GW

Baca JugaHadapi Cuaca Ekstrem, Polres Blitar Kota Gelar Apel Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026
Tags: #Era Digital #kajian filsafat #seri kedua #the lead institute universitas paramadina #pray foundation

Bagikan berita:

Berita Terkait