Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Tragedi atau Kemenangan? Kisah Sabar Gorky dan Marinir TNI AL Menaklukkan Ego di Aconcagua

S Samsuddin • 27 Feb 2026 • 0 komentar
Tragedi atau Kemenangan? Kisah Sabar Gorky dan Marinir TNI AL Menaklukkan Ego di Aconcagua

Putraindonews.com, Jakarta -  Maret 2016 menjadi saksi bisu sebuah drama kemanusiaan dan militer di lereng Gunung Aconcagua, Argentina. Tim Ekspedisi Indonesia Raya, yang membawa misi besar menancapkan Merah Putih di atap tertinggi Benua Amerika, harus berhadapan dengan pilihan tersulit: ambisi puncak atau keselamatan nyawa.

Di ketinggian 6.650 meter di atas permukaan laut (mdpl), puncak Aconcagua tampak sangat dekat—hanya tersisa 300 meter secara matematis.

Baca JugaInggris dalam Siaga Perang, Sebut Waktu Tinggal 1.000 Hari Lagi

Di sana berdiri Sabar Gorky, pendaki tunadaksa legendaris dengan satu kaki, didampingi prajurit-prajurit elite dari Denjaka dan Taifib Korps Marinir TNI AL di bawah komando Letkol (Mar) Rivelson Saragih.

Namun, alam memiliki rencana lain. Awan Cumulonimbus yang menggumpal di cakrawala Andes menjadi sinyal maut akan datangnya badai besar.

Baca JugaLula da Silva Kembali Terpilih Jadi Presiden Brasil

Antara Ambisi Puncak dan Solidaritas Prajurit Secara taktis, para prajurit Denjaka dan Taifib memiliki kemampuan fisik untuk melesat ke puncak tanpa Sabar Gorky dan kembali sebelum badai menerjang.

Secara administratif, keberhasilan mencapai puncak akan memvalidasi investasi besar dari sponsor utama, Artha Graha, serta biaya logistik internasional yang masif.

Baca JugaRusak! Militer Manfaatkan Orang Dalam untuk Main Judi

Namun, prinsip dasar Korps Marinir tidak mengizinkan hal itu: Tidak ada rekan yang ditinggalkan.

Manajer pendakian, Dar Edi Yoga, melalui telepon satelit segera berkoordinasi dengan Komandan Korps Marinir saat itu, Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana di Jakarta, serta Tomy Winata selaku pendukung utama. Keputusan berat pun diambil demi kemanusiaan.

Baca JugaDonald Trump Jadi Bahan Olokan di Iran, Terpenjara di Papan Reklame

“Pulang dengan selamat adalah yang utama, dan Gunung Aconcagua tidak akan ke mana-mana,” perintah tegas Dar Edi Yoga kepada tim di ketinggian.

Kemenangan Moral Melampaui Ego Mendengar perintah tersebut, Letkol (Mar) Rivelson Saragih dan seluruh tim memilih untuk turun.

Baca JugaParlemen Malaysia Minta Prabowo Atasi Masalah Karhutla Menggunakan Bahasa Jawa

Mereka menunda mimpi berdiri di titik tertinggi demi menjaga Sabar Gorky dan keutuhan tim. Bagi mereka, prestasi sejati bukanlah bendera yang tertancap di puncak, melainkan kembalinya seluruh personel ke tanah air tanpa kurang satu apa pun.

Kisah ini pun menarik simpati lintas matra. Atase Pertahanan RI untuk Brasil dan Argentina saat itu, Kolonel Budhi Achmadi (kini Marsekal Muda TNI), rela terbang jauh dari Brasil untuk menyambut kepulangan tim di Argentina.

Baca JugaEropa Bergolak, Demonstrasi Besar-Besaran Berlangsung di Albania

Kehadiran perwira tinggi TNI AU ini menjadi simbol bahwa solidaritas Merah Putih melampaui sekat matra dan jabatan.

Ekspedisi ini membuktikan bahwa di gunung setinggi apa pun, kemenangan terbesar bukanlah menaklukkan medan, melainkan menaklukkan ego pribadi. Nyawa, kehormatan, dan persaudaraan adalah nilai yang tak tergantikan oleh trofi mana pun. Red/GW

Baca JugaAksi Protes Massal Berlangsung di Prancis, Ribuan Orang Ditangkap
Tags: #Indonesia #tni #edi #tni al #investasi

Bagikan berita:

Berita Terkait