Putraindonews.com, Jakarta – Dampak perang yang terjadi di Timur Tengah dalam beberapa minggu terakhir membuat nilai tukar rupiah tertekan.
Diprediksi, mata uang rupiah akan mengalami pukulan hebat bahkan berpotensi melemah hingga mendekati Rp 20.000 per dollar AS dalam waktu singkat jika perang terus belanjut.
Baca JugaLagi, Ratusan Siswa di Bogor Diduga Keracunan MBGPandangan tersebut mencuat di tengah narasi tentang kondisi ekonomi Indonesia yang ditopang melalui cadangan devisa sekitar US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2.400 triliun (kurs Rp 16.000 per dollar AS), serta struktur utang yang didominasi tenor jangka panjang.
“Indonesia terlena atau tepatnya, diterlena oleh narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat, cadangan devisa besar, mencapai lebih dari 150 miliar dollar AS, dan struktur utang aman karena didominasi tenor jangka panjang,” kata Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan dalam keterangan pers, Senin (23/3).
Baca JugaMoeldoko Sarankan Keistimewaan Bebas Gage Bagi Mobil Listrik DicabutIa menjelaskan bahwa gambaran tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan basis fundamental ekonomi yang sebenarnya.
“Masalahnya pernyataan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta. Fundamental ekonomi baik fiskal, moneter, dan nilai tukar sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh,” urainya. Red/HS
Baca JugaMenlu Singapura Kunjungi Indonesia di Tengah Memanasnya Hubungan Indonesia-Singapura