Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Eks KaBAIS Buka-bukaan: Energi Besar di Tubuh TNI Berpotensi Jadi Risiko

S Samsuddin • 30 Mar 2026 • 0 komentar
Eks KaBAIS Buka-bukaan: Energi Besar di Tubuh TNI Berpotensi Jadi Risiko

Putraindonews.com, Jakarta – Pengamat militer dan intelijen, Soleman B. Ponto, menyoroti kondisi Badan Intelijen Strategis TNI (BAIS TNI) yang dinilainya tengah menghadapi risiko pelemahan dari dalam sistem pembinaan karier di tubuh militer itu sendiri.

Dalam analisisnya, Soleman menegaskan bahwa BAIS sebagai instrumen strategis negara seharusnya berada di garis depan dalam membaca ancaman dan melakukan deteksi dini. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya pergeseran orientasi yang berdampak pada menurunnya ketajaman fungsi intelijen.

Baca JugaKomdigi Angkat Bicara Soal Takedown 486 Konten Demo Agustus

“Masalah BAIS bukan datang dari luar, tetapi dari dalam sistemnya sendiri, terutama terkait struktur kepangkatan, pola promosi, dan pengaturan usia pensiun,” ujar Ponto, yang juga Mantan KaBais TNI periode 2011- 2013, kepada media, Minggu (29/4/2026).

Orientasi Jabatan dan Jalur Bintang Tiga Menurut Soleman, dalam struktur TNI, jabatan perwira tinggi bintang tiga seperti Letjen, Laksdya, dan Marsdya tidak bisa dilepaskan dari jalur menuju posisi puncak, yakni Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU).

Baca JugaBEM UI Bersama Masyarakat Sipil Bakal Gelar Aksi 28 Oktober

Konsekuensinya, jabatan strategis, termasuk di BAIS, tidak lagi sepenuhnya berbasis profesionalisme bidang intelijen, melainkan menjadi bagian dari konfigurasi karier menuju pucuk pimpinan.

“Ketika logika karier ini masuk ke BAIS, maka orientasi jabatan ikut berubah. Tidak lagi murni kebutuhan intelijen, tetapi bagian dari mekanisme seleksi kepemimpinan,” jelasnya.

Baca JugaDua Anak Menteri Haji Mengundurkan Diri sebagai Tenaga Ahli

Peran Vital Perwira Bintang Dua

Soleman menilai, pada level bintang dua, profesionalisme justru berada pada titik paling optimal. Perwira di jenjang ini umumnya aktif membangun rekam jejak, menunjukkan kapasitas, serta bersaing untuk naik ke level berikutnya.

“Di sinilah sumber analisis tajam, operasi yang hidup, dan inovasi berkembang. Lapisan ini menjadi tulang punggung kualitas intelijen,” ungkapnya.

Baca JugaPDIP Buka Komunikasi atas Ajakan PKS Tindak Lanjuti Ijazah Gibran

Kolonel: Fase Kuat yang Rentan Terhambat

Sorotan tajam juga diarahkan pada penumpukan perwira di level kolonel. Soleman menyebut fase ini sebagai titik paling produktif dalam karier militer dengan kombinasi fisik prima, pengalaman matang, serta keberanian operasional yang tinggi.

Namun, justru pada level ini terjadi hambatan signifikan dalam jalur karier. “Kolonel itu paling kuat, tapi banyak yang terhenti. Tidak jelas arah kariernya. Ini berbahaya,” tegas Soleman.

Baca JugaPrabowo Diminta Nonaktifkan Nusron Wahid

Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah, dinamika besar kerap muncul dari level ini, dengan menyebut nama seperti Untung Syamsuri, Abdul Latief, Idi Amin, dan Gregorio Honasan yang semuanya berada pada fase kolonel atau setara saat memainkan peran penting dalam sejarah.

Risiko Energi Tak Tersalurkan

Lebih lanjut, Soleman mengingatkan bahwa ketika energi besar dari perwira kolonel tidak mendapatkan ruang, maka hal itu berpotensi berubah menjadi masalah struktural.

Baca JugaMenteri Haji Disorot Usai Mencuat Isu Dua Anaknya Diangkat Jadi Tenaga Ahli

“Kalau kemampuan tinggi tidak punya kanal resmi, bisa muncul frustrasi, konflik kepentingan, bahkan potensi disrupsi organisasi,” katanya.

Dalam konteks intelijen, kondisi ini dinilai sangat merugikan negara karena justru kehilangan operator terbaik pada saat mereka berada di puncak kemampuan. Sistem Pensiun dan Pergeseran Orientasi

Baca JugaDino Patti Djalal Tepis Isu Singapura Bersekongkol Lemahkan Pasar Modal Indonesia

Soleman juga menyoroti sistem usia pensiun yang dinilai turut memengaruhi orientasi perwira tinggi. Dengan adanya perpanjangan masa dinas seiring kenaikan pangkat, menurutnya, fokus perwira dapat bergeser dari tugas operasional ke kepentingan jabatan.

“Orientasi berubah dari operasi ke promosi. Ini rasional, karena kenaikan pangkat berarti tambahan masa dinas,” ujarnya.

Baca JugaDemo Mahasiswa UNJ di Jaktim Berujung Ricuh

Minimnya Spesialis Intelijen di Level Puncak

Permasalahan lain yang diangkat adalah terbatasnya jumlah perwira dengan latar belakang intelijen yang mencapai level bintang tiga. Hal ini kerap memunculkan pendekatan pragmatis dalam penempatan pimpinan.

“Akhirnya muncul anggapan ‘siapa saja bisa’. Secara struktur mungkin bisa, tapi hasilnya belum tentu optimal,” kata Soleman.

Baca JugaKetua Alumni 212 Siap Konsolidasi Gerakan Pemakzulan Gibran

Risiko Hilangnya Daya Gigit Intelijen

Dengan berbagai persoalan tersebut, Soleman menilai BAIS berisiko kehilangan daya gigit sebagai lembaga intelijen strategis.

“Operasi tetap ada, laporan tetap jalan, tapi ketajaman hilang. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

Baca JugaDinilai Gemuk, Struktur Keanggotaan Wantimpres Digugat ke MK

Ia menutup wawancara dengan peringatan bahwa ancaman terbesar bagi BAIS bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam sistem itu sendiri. “Kalau energi tidak tersalurkan dan orientasi bergeser dari tugas ke jabatan, maka intelijen hanya akan menjadi rutinitas administrative, bukan lagi alat keunggulan strategis negara,” pungkasnya. Red/GW

Bagikan berita:

Berita Terkait