Menghibahkan buku merupakan cara saya berkomunikasi kepada seseorang atau institusi. Lewat buku-buku yang didonasikan itu, saya terhubung dengan sekolah, komunitas, coffee shop, taman baca, juga perpustakaan.
Kenangan di Perpustakaan Unhas
Seperti pada Kamis, 26 Februari 2026, saya ke kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) membawa belasan buku, baik yang saya tulis sendiri maupun yang saya sunting sebagai editor.
Baca JugaZulhas dan Jalan Menuju Swasembada PanganSebelum ke Tamalanrea, saya berkomunikasi terlebih dahulu dengan Andi Nasri Abduh, S.Sos, M.Hum selaku Humas Perpustakaan Unhas. Biar saya bisa langsung ke sana, tak harus mutar-mutar bertanya.
Sebab, sekalipun saya alumni Unhas, tetapi sudah lama sekali saya tidak ke perpustakaan pusat yang berada di dekat Rektorat itu.
Baca Juga2 Tahun Prabowo-Gibran: Ujian dan Arti Sebuah KomitmenPada masa kuliah, 1987-1992, perpustakaan pusat menjadi salah satu tempat yang saya kerap kunjungi. Tidak selalu untuk membaca, terkadang hanya untuk sekadar beristirahat.
Ini terutama pada tahun-tahun awal masa perkuliahan. Pasalnya, sebagai mahasiswa kita butuh menyiasati dan mengisi waktu, saat jeda kuliah, pagi hingga sore.
Baca JugaKoordinasi Polisi dan Jaksa: Mengakhiri Ego Sektoral dalam Perkara PidanaKala itu, kalaupun saya membaca buku di perpustakaan pusat, bukan buku-buku hukum yang bertalian dengan disiplin ilmu saya. Namun lebih banyak saya membolak-balik buku seni rupa, berupa buku-buku profil dan reproduksi karya para maestro, seperti Paul Gauguin, Vincent van Gogh, Rembrandt van Rijn, Pablo Picasso, dan lainnya.
Tahun-tahun 80an itu, saya masih getol melukis. Jadi segala sesuatu yang berkaitan dengan seni rupa selalu menarik perhatian saya.
Baca JugaKementerian PU: Membangun Infrastruktur, Menegakkan IntegritasItulah ingatan saya pada Perpustakaan Unhas, sebagai tempat ngaso, dan bisa ngobrol dengan teman di tempat yang nyaman. Selain itu, di sini saya juga bisa menemukan buku-buku yang memenuhi selera visual estetik saya.
Di Fakultas Hukum Unhas, seingat saya, dahulu ada perpustakaan di bawah ruang dekanat. Nanti ruang perpustakaan ini diubah fungsinya menjadi ruang-ruang kuliah.
Baca JugaMenyambut Era Baru Polri yang Lebih Humanis-AdaptifOleh teman-teman, ruang-ruang kuliah dengan jendela kaca besar itu disebut sebagai akuarium hehehe. Karena mereka yang kuliah di dalam ruangan itu bisa terlihat dari luar, begitupun sebaliknya.
Semua ruangan di area ini, kini masuk dalam wilayah Fakultas Ilmu Budaya (FIB).
Baca JugaMenjadi Religius Tanpa FanatismeTata Letak Ruangan Terasa Lapang
Setelah menaiki tangga menuju lantai dua, saya melihat ke arah pintu yang di atasnya terdapat tulisan dwi bahasa: PERPUSTAKAAN UNHAS (dalam huruf kapital), dan tulisan Hasanuddin University Library, lengkap dengan alamat website, e-mail, dan akun medsos.
Saya masuk lalu bertanya di bagian front office. Saya diarahkan untuk ke ruangan berkaca.
Baca JugaDi Ujung Petasan, Kerukunan Jakarta DiujiMata saya seketika tertuju pada pappasangna Tomatoa yang ditulis dalam aksara Lontaraq, warna merah. Tepat di bawahnya ada tulisan berbahasa Makassar dalam huruf Latin: Pangassenganga Niballaki Nijagaiki, Naia Tosseng Barang-Barang Niballaki Nijagaipi.
Kemudian ada pula tulisan dalam bahasa Inggris, Treasure is guarded by its owner, knowledge guards its keeper.
Baca JugaMembentuk Masa Depan: Strategi Indonesia Menghadapi Badai Geopolitik GlobalTulisan yang sarat pesan filosofis itu kira-kira berarti bahwa harta itu akan dijaga oleh pemiliknya, sedangkan pengetahuan akan menjaga pemiliknya.
Di sebelah kiri ruangan berdinding kaca yang dimaksud tadi, terdapat foto Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, M.Sc, dan logo Unhas, yang dicetak di atas kanvas.
Baca JugaParadoks Peradaban ModernSaya membaca tulisan tangan Pak Rektor: "Jadilah sumber cahaya untuk kecerdasan Unhas dan bangsa". Tulisan yang dibubuhi tanda tangan JJ itu sederhana tetapi punya makna kuat.
Saya bersyukur, bisa bertemu dan menyerahkan langsung buku-buku saya kepada Kepala Perpustakaan Unhas, Prof. Dr. Munira Hasjim, SS, M.Hum. Guru Besar Linguistik Unhas itu, mengungkapkan bahwa beliau belum lama dilantik sebagai Kepala Perpustakaan Unhas.
Baca JugaKetika Lapas Bukan Tempat untuk KemewahanWanita kelahiran Sungguminasa, Kabupaten Gowa, 10 Mei 1971 ini, dilantik sebagai Kepala Perpustakaan Unhas pada tanggal 9 Februari 2026. Prof Munira Hasjim akan menjabat untuk empat tahun ke depan (periode 2026-2030).
Visinya, memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat layanan informasi, literasi, riset berbasis inovasi serta teknologi digital.
Baca JugaZulhas dan Jalan Menuju Swasembada PanganKami ngobrol banyak tentang penulisan buku, kegiatan literasi, dan kemungkinan kolaborasi. Prof. Munira Hasjim berbagi cerita tentang buku Pakdaengang: Panamaan dalam Etnik Makassar, yang beliau tulis tahun 2022.
Saya menimpali bahwa buku ini penting dan akan jadi referensi saya. Karena saya berencana mengelaborasi puisi Panggil Aku Daeng, yang saya ciptakan tahun 2017, menjadi buku.
Baca Juga2 Tahun Prabowo-Gibran: Ujian dan Arti Sebuah KomitmenBersama kami, saat itu, Andi Milu Marguna, S.Sos, MM, selaku Ketua Divisi Pengembangan Pustakawan, Kerjasama, dan Pengelolaan Informasi, Andi Nasri Abduh, S.Sos, M.Hum, staf Humas, dan Nurul Fitrihasari R.
Berbagi Kisah di Balik Penulisan Buku
Buku-buku yang saya hibahkan ke Perpustakaan Unhas punya tema yang beragam. Cerita di balik penulisan buku-buku itu juga tak kalah menarik.
Baca JugaKoordinasi Polisi dan Jaksa: Mengakhiri Ego Sektoral dalam Perkara PidanaBuku Menggugat Politik Perlindungan Anak (Pijar Press, 2015), dan buku Problematika Sosial Anak: Kekerasan, Eksploitasi, dan Anak Berkonflik dengan Hukum (Pakalawaki, 2023), merupakan upaya saya mendiversifikasi isu anak, sebagai bagian dari kerja-kerja advokasi.
Buku Pekerja Anak di Pannampu, Makassar (Rayhan Intermedia, 2019), yang merupakan hasil Action Research Anak Jalanan dan Pekerja Anak di Kota Makassar kerja sama Plan Indonesia, tahun 2005, adalah kerja kolektif bersama LSM jaringan dan warga.
Baca JugaKementerian PU: Membangun Infrastruktur, Menegakkan IntegritasDua tahun kami life in, berbaur dengan masyarakat, dan merasakan dinamika hidup anak-anak pasar yang bekerja di Pasar Pannampu dan TPI Paotere untuk mendapatkan data-data dalam buku itu.
Buku Mozaik Penyiaran: Dari Jurnalisme Hingga Nasionalisme Penyiaran, dari Dinamika Penyiaran Lokal Hingga Penyiaran Pro Publik (MediaQita Foundation, 2018), merupakan sebagian artikel yang sudah dipublikasi di media cetak, semasa saya jadi komisioner KPID Sulawesi Selatan.
Baca JugaMenyambut Era Baru Polri yang Lebih Humanis-AdaptifSementara buku Perda TV Kabel: Sebuah Pengalaman (PT Umitoha Ukhuwah Grafika kerja sama Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sulawesi Selatan, 2014), merupakan dokumentasi draft awal Naskah Akademik Ranperda TV kabel, di mana saya sebagai legal drafternya.
Perda TV Kabel ini merupakan Perda pertama di Indonesia, kala itu.
Baca JugaMenjadi Religius Tanpa FanatismeMasih ada lagi buku Memoar Pustakawan Sejati, yang ditulis Nasyidah, S.Sos, M.AP (Arsy Media, 2026), Pustakawan Ahli Utama pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.
Bu Nasyidah ini termasuk angkatan pertama Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Non Gelar Ilmu Sosial (Fanogis) Unhas.
Baca JugaDi Ujung Petasan, Kerukunan Jakarta DiujiBuku lainnya, yakni Media dan Perubahan Politik Represif karya Dr Mansyur Semma, yang saya sunting bersama Dr Arfah Tjolleng, SH, MH. Almarhum Mansyur Semma semasa hidupnya, rupanya pernah pula di Perpustakaan Unhas.
Masih ada lagi buku Politik dan Rekayasa Bahasa karya Sukardi Weda (MediaQita Foundation, 2015). Buku bunga rampai tulisan Prof Sukardi Weda ini malah jadi judul orasi ilmiahnya saat pengukuhannya sebagai Guru Besar UNM.
Baca JugaMembentuk Masa Depan: Strategi Indonesia Menghadapi Badai Geopolitik GlobalProf Sukardi Weda merupakan salah satu calon Rektor Unhas, dalam pilrek lalu.
Buku-buku lain berupa best practice program inovasi di SD Hang Tuah Makassar, buku reklamasi Pantai Losari melalui proyek Center Point of Indonesia (CPI), serta beberapa judul yang masing-masing punya kisahnya sendiri-sendiri.
Baca JugaParadoks Peradaban ModernSebelum pamit, saya katakan, setiap buku punya kisahnya sendiri, bagaimana proses kreatifnya, dan mengapa bisa sampai ke saya sebagai editornya.
Tak ubahnya jodoh, buku-buku itu juga seolah punya jalannya, dan menemukan jalannya sendiri, hingga bisa sampai ke tangan pembacanya.
Baca JugaKetika Lapas Bukan Tempat untuk KemewahanOleh: Rusdin Tompo
Penulis Adalah Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan