Putraindonews.com, Jakarta – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) mengkritisi kebijakan Work From Home (WFH) yang dikeluarkan pemerintah.
Menurutnya, langkah untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) itu kurang efektif dikarenakan tidak memberikan dampak signifikan pada penggunaan energi secara makro.
Baca JugaKomdigi Angkat Bicara Soal Takedown 486 Konten Demo Agustus"Di kantor itu energi yang dominan adalah listrik untuk lampu dan AC, bukan BBM. Apalagi pasokan listrik kita di Jawa-Bali mayoritas masih bersumber dari PLTU batu bara," kata JK setelah menghadiri acara di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (1/4).
Kendati dirinya mengakui kebijakan tersebut dapat meminimalisir tingkat mobilitas kendaraan ASN, JK memperingatkan risiko yang lebih besar, berupa penurunan produktivitas dan kualitas layanan publik. Ia menilai, memangkas aktivitas kerja di tengah situasi krisis adalah langkah yang keliru.
Baca JugaBEM UI Bersama Masyarakat Sipil Bakal Gelar Aksi 28 Oktober"Benar ada penghematan BBM bagi individu karena tidak ke kantor. Namun, jika pelayanan mandek dan produktivitas rontok, dampaknya ke ekonomi jauh lebih berbahaya," bebernya.
Sebagai pengganti, ia menyarankan pemerintah agar mengambil langkah yang lebih mendasar dan berani.
Baca JugaDua Anak Menteri Haji Mengundurkan Diri sebagai Tenaga AhliBerkaca pada krisis energi 2005–2006, ia menyebut instrumen harga tetap menjadi cara paling efektif untuk mengontrol konsumsi.
"Kalau harga naik, orang otomatis irit. Itu hukum alamnya. Selain itu, optimalisasi transportasi umum dan efisiensi energi rumah tangga jauh lebih berdampak daripada sekadar WFH," ungkapnya. Red/HS
Baca JugaPDIP Buka Komunikasi atas Ajakan PKS Tindak Lanjuti Ijazah Gibran