Putraindonews.com, Sulsel - Lakkang tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya terlalu sering diceritakan oleh orang lain.
Di antara aliran Sungai Tallo dan Sungai Pampang, kampung kecil itu menyimpan lebih dari sekadar bentang geografis. Ia adalah ingatan yang berlapis—tentang orang-orang yang lahir, tumbuh, dan perlahan belajar memahami dirinya sebagai bagian dari ruang yang kerap ditafsir dari luar.
Baca JugaLagi, Ratusan Siswa di Bogor Diduga Keracunan MBGIronisnya, semakin banyak cerita tentang Lakkang ditulis, semakin sedikit warga Lakkang sendiri yang menjadi penulisnya.
Di situlah Gaukang ri Lakkang 2026 menemukan relevansinya—bukan sekadar kegiatan, melainkan semacam jeda untuk bertanya: siapa yang berhak menceritakan sebuah kampung?
Baca JugaMoeldoko Sarankan Keistimewaan Bebas Gage Bagi Mobil Listrik DicabutMenulis untuk Mengembalikan Diri
Sabtu itu, 4 April 2026, bukan hanya tentang workshop. Ia adalah ruang gugatan yang disampaikan dengan pelan, tapi mengendap.
Ferdhiyadi, peneliti sejarah yang hadir sebagai pemantik, tidak menawarkan teori yang jauh. Ia justru mengajak peserta kembali ke hal paling dekat: pengalaman hidup mereka sendiri.
Baca JugaMenlu Singapura Kunjungi Indonesia di Tengah Memanasnya Hubungan Indonesia-SingapuraCerita orang tua, perubahan kampung, cara bertahan hidup, hingga kearifan lokal—semuanya, katanya, adalah sejarah. Namun sejarah itu kerap diambil, diolah, lalu dikembalikan dalam bentuk yang tidak lagi sepenuhnya milik warga.
Pola itu berulang: peneliti datang, bertanya, mencatat, lalu pergi dengan membawa narasi. Sementara warga tetap tinggal, tanpa kuasa atas cerita yang mereka hidupi.
Baca JugaHUT ke-9, IMO-Indonesia Tegaskan Pentingnya Kualitas PemberitaanDi titik itu, menulis menjadi lebih dari sekadar keterampilan. Ia berubah menjadi tindakan—cara merebut kembali ruang yang lama diambil.
Bahasa sebagai Cara Bertahan
Namun, persoalan tidak berhenti pada siapa yang menulis. Ia juga menyentuh bagaimana menulis itu dilakukan.
Baca JugaPria di Tangerang Terkejut Usai Ditagih Pajak Rp137 Juta dari McLerenSubarman Salim menggeser diskusi ke wilayah yang lebih halus: bahasa.
Bahasa, baginya, bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah penanda identitas—bahkan medan perlawanan. Ketika bahasa ibu ditinggalkan, yang hilang bukan hanya kata, melainkan cara berpikir dan cara memandang dunia.
Baca JugaCatat! Operasi Patuh Semeru Digelar Hari Ini hingga 8 November 2026Dalam banyak kasus, dominasi pengetahuan berjalan seiring dengan dominasi bahasa. Apa yang dianggap “ilmiah” seringkali harus tunduk pada bahasa tertentu, sementara bahasa lokal perlahan didorong ke pinggir.
Karena itu, ajakan untuk menulis dalam bahasa ibu bukan romantisme. Ia adalah strategi bertahan.
Baca JugaSherly Tjoanda Harapkan Apindo Malut Berdampak NyataDi Lakkang, bahasa bukan hanya medium. Ia adalah benteng terakhir yang menjaga agar kampung tidak sepenuhnya didefinisikan dari luar.
Kampung sebagai Laboratorium yang Hidup
Di sesi lain, diskusi bergerak ke arah yang lebih konkret: bagaimana menulis itu dimulai.
Baca JugaKawasan Suryakencana Bogor Dilanda KebakaranObservasi menjadi kata kunci. Bukan observasi yang berjarak, tetapi yang melibatkan seluruh indra. Mendengar cerita, menandai tempat, mengingat kembali masa kecil—semua menjadi pintu masuk untuk menulis kampung dari dalam.
Lakkang, dengan segala kesederhanaannya, justru menawarkan kelimpahan bahan.
Baca JugaPHDI Pusat Gelar Upacara Mejaya-jaya dan Mesimakrama di Pura BesakihSungai yang mengelilingi pulau, pohon nipah dan bambu yang tumbuh tanpa banyak bicara, kuliner seperti pallu unti-unti, hingga jejak sejarah seperti bunker peninggalan Jepang—semuanya adalah teks yang belum dituliskan.
Bahkan, generasi muda menemukan ruang-ruang baru seperti Lakkang Caddi—sebuah lokasi yang belum banyak dikenal, tapi menyimpan kemungkinan cerita yang luas.
Baca JugaKetum APINDO: UMKM Perlu Perkuat Inovasi dan Kapasitas KepemimpinanDi titik ini, Lakkang tidak lagi sekadar tempat tinggal. Ia berubah menjadi laboratorium sejarah yang hidup—tempat di mana perubahan terjadi, diamati, dan seharusnya dicatat oleh mereka yang mengalaminya.
Dari Kampung untuk Kampung
Gaukang ri Lakkang 2026, yang didukung oleh program Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan, mungkin terlihat seperti kegiatan biasa dalam kalender literasi. Namun di dalamnya, ada upaya yang lebih mendasar: mengembalikan narasi kepada pemiliknya.
Baca JugaLagi, Ratusan Siswa di Bogor Diduga Keracunan MBGSofyan Basri menyebutkan satu hal yang terasa paling mendesak—ketika kampung kehilangan narasinya, ia perlahan kehilangan cara memahami dirinya sendiri.
Menulis, dalam konteks ini, bukan lagi aktivitas individual. Ia menjadi kerja kolektif untuk merawat ingatan, memperkuat identitas, dan memastikan bahwa generasi berikutnya tidak hanya mewarisi ruang, tetapi juga makna.
Baca JugaMoeldoko Sarankan Keistimewaan Bebas Gage Bagi Mobil Listrik DicabutPada akhirnya, Lakkang tidak kekurangan cerita. Ia hanya menunggu untuk dituliskan oleh tangan-tangan yang selama ini hidup di dalamnya.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, warga mulai menyadari: sejarah tidak harus datang dari luar. Ia bisa dimulai dari rumah, dari ingatan, dan dari keberanian untuk menulis. Red/MB
Baca JugaMenlu Singapura Kunjungi Indonesia di Tengah Memanasnya Hubungan Indonesia-Singapura