Putraindonews.com, Jakarta – Diskursus tentang "Black September" akhir-akhir ini kembali mengemuka di publik.
Media sosial bahkan paling ramai membahas isu tersebut. Black Septmeber sendiri sebenarnya merujuk pada kekhawatiran soal munculnya aksi yang dinilai dapat mengganggu stabilitas politik pada September.
Baca JugaPresiden Prabowo Teriak Free Palestine di Resepsi Pondok GontorAnalis politik dan isu intelijen, Boni Hargens, memandang kemunculan narasi tersebut tidak sepenuhnya mengagetkan.
Pasalnya, kata dia, September selalu identik dengan berbagai catatan sejarah perjalanan bangsa Indonesia sehingga momentum itu besar kemungki an dapat dimanfaatkan oleh pihak tertentu.
Baca JugaPemilik UMKM Mengaku Dipalak Sejuta per Hari di Jogja“Bulan September memang sarat dengan momen-momen bersejarah penting di Indonesia, dan hal itulah yang menjadi daya tarik bagi pihak-pihak tertentu untuk memanfaatkannya," ungkap Boni kepada awak media, Jumat (18/9).
Ia menambahkan bahwa sederet peristiwa yang terjadi pada September membuat bulan tersebut memiliki imej penuh emosional dan mengandung nuansa tersendiri.
Baca JugaPrabowo Terpukau dengan Lebah Begantong di HUT PANSebagai contoh Tragedi Semanggi II yang berlangsung pada 24 September 1999 ketika aksi demonstrasi mahasiswa menolak Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB) berujung bentrokan dan menewaskan sejumlah mahasiswa, termasuk Yap Yun Hap dari Universitas Indonesia. Red/HS