Putraindonews.com, Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Keuangan pada Selasa, mengeluarkan peringatan serius kepada seluruh lembaga keuangan global terkait perang di Selat Hormuz.
Dengan tegas, AS berencana menjatuhkan sanksi sekunder kepada pihak-pihak yang dinilai mendukung aktivitas Iran, di tengah kebuntuan perundingan langsung antara kedua negara.
Baca JugaDonald Trump Jadi Bahan Olokan di Iran, Terpenjara di Papan ReklameDepartemen tersebut menyebut akan “bergerak agresif dengan tekanan ekonomi maksimal” guna mempertahankan kebijakan tekanan terhadap Iran.
“Lembaga keuangan harus menyadari bahwa Departemen Keuangan AS akan memanfaatkan seluruh instrumen dan kewenangan yang tersedia serta siap menjatuhkan sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing yang terus mendukung aktivitas Iran,” demikian pernyataan yang diunggah melalui platform X.
Baca JugaParlemen Malaysia Minta Prabowo Atasi Masalah Karhutla Menggunakan Bahasa JawaDepartemen tersebut juga menyampaikan bahwa izin jangka pendek untuk penjualan minyak Iran yang tertahan di laut akan segera berakhir dalam beberapa hari ke depan dan tidak akan diperpanjang.
Kebijakan tersebut merujuk pada pengecualian sementara selama 30 hari yang diterbitkan pada 20 Maret, yang memungkinkan penjualan minyak Iran yang telah berada di laut, dengan estimasi volume sekitar 140 juta barel.
Baca JugaEropa Bergolak, Demonstrasi Besar-Besaran Berlangsung di AlbaniaLangkah tersebut diambil untuk meredam lonjakan harga energi global yang dipicu oleh perang AS-Israel terhadap Iran. Red/HS