Putraindo News Terdepan, Terpercaya Dan Berimbang

Catatan Komisi III DPRD Kota Blitar Terhadap Pelaksana Proyek Taman Ecopark 3,8 M

A Arifin 24 Sep 2026 0 komentar
Catatan Komisi III DPRD Kota Blitar Terhadap Pelaksana Proyek Taman Ecopark 3,8 M
Pemerintah kota Blitar bidang pembangunan proyek fisik, Komisi III DPRD Kota Blitar sidak Proyek Taman Ecopark 3,8 M. Arifin/Putraindonews

Putraindonews.com, Blitar - Dalam rangka menjalankan tugas fungsi pengawasan kebijakan  Pemerintah kota Blitar bidang pembangunan proyek fisik, Komisi III DPRD Kota Blitar melakukan inspeksi mendadak (sidak) dengan menyasar di sejumlah titik pembangunan di wilayah setempat, sidak anggota Komisi III dipimpin langsung ketus Komisi III Yudi Meira pada rabu siang (23/09/26) yang diikuti Dinas terkait. 

Dikemukakan oleh Ketua Komisi III DPRD Kota Blitar Yudi Meira kegiatan Sidak direncanakan ada lima lokasi, namun yang bisa ditinjau masih meninjau Taman Ecopark Joko Pangon dan Saluran Jalan Anggrek–Melati, sementara proyek BTC Telumpu belum dilaksanakan.
 
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Blitar, Totok Sugiarto kepada wartawan mengemukakan, bahwa peninjauan saat itu Komisi III lebih mengarah pada catatan kusus bagi pelaksana proyek, masalah mutu bahan material yang dinilai sangat rendah kususnya pasir 
 
"Awalnya kita membidik 5 titik, terus karena waktu, hanya 3 titik yakni Joko Pangon, Jalan Anggrek/Melati, sama BTC di Telumpu. Namun BTC Telumpu masih belum dilaksanakan. Jadi kita hanya ke Joko Pangon sama Anggrek ada beberapa catatan yang harus diperbaiki," kata Totok Sugiarto.
 
Totok menegaskan, kualitas bahan konstruksi harus dijaga, khususnya pasir yang wajib diambil dari Sungai Brantas, bukan dari urukan daerah utara. Spesifikasi ukuran pengerjaan juga harus tepat sesuai ketentuan. Hal material yang lain masih perlu di evaluasi. 
 
"Kualitas bahan, utamanya pasir itu kita minta ambil di Brantas, jangan ambil uruk di daerah utara ya. Terus ada beberapa yang perlu juga diperbaiki terkait sepek ukuran. ukurannya harus tepat," tegas Totok.
 
Kemajuan fisik proyek dengan anggaran sekitar Rp3,8 miliar ini, baru mencapai 6,8 persen, padahal sasaran sementara 10 persen. Bahkan catatan konsultan pengawas baru 5 persen. Komisi III menargetkan pada awal Oktober, kemajuan minimal mencapai 20–25 persen.
 
"Untuk kemajuan pekerjaan di Joko Pangon masih 6,8 persen, masih jauh. Sedangkan targetnya 10 persen, tapi catatan di konsultan pengawas ini masih 5 persen. Yang penting di minggu awal bulan Oktober kita datangi lagi, setidaknya 20–25%," tandasnya.

Baca JugaDisinyalir Tidak Penuhi Spektek Rekanan Nakal Dipanggil Komisi II DPRD Kota Blitar

Totok menambahkan untuk Saluran Jalan Anggrek tidak ada catatan khusus karena pekerjaan tinggal pemasangan.
 
"Sementara untuk saluran jalan Anggrek, tidak ada temuan, karena yudith jadi tinggal pasang. Tinggal pasang, jadi enggak ada istilahnya pengacoran dan sebagainya," pungkasnya.

Berbeda dengan Joko Pangon, pembangunan Saluran Jalan Anggrek berjalan melampaui rencana. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Blitar, Ir. Erna Santi, melaporkan kemajuan telah di atas 30 persen.
 
"Alhamdulillah jalan anggrek ini sudah di atas 30 persen, itu sudah melebihi target yang direncanakan. Ini kontraknya sampai Desember, pertengahan Desember, mulainya pertengahan Agustus," kata Erna.
 
Pekerjaan saluran ini berupa komponen pabrikasi sehingga kualitasnya terjamin. Seluruh material wajib melalui uji laboratorium.
 
"Pasti ada, semuanya kami minta ada uji beton, besinya juga ada uji. Alhamdulillah karena ini pabrikasi ya, tentu terstandar. Nilai kontraknya ini 500 sekian lah dari tender ini kan ya, ini tender," imbuhnya.
 
Saluran tersebut dibangun untuk mengurangi beban debit air dari arah utara, sehingga pembuangan tidak hanya ke timur, melainkan juga dialirkan ke Sungai Bentis melalui Jalan Melati.

Baca JugaGubernur Pramono Perintahkan Bongkar JPO Rasuna Said

Dari pantauan di lapangan media ini membenarkan hasil yang disampaikan Komisi III, saat penuangan PC semem dan pasir nampak lembek, disinyalir material mutu rendah . 

Red/Rif.

Bagikan berita:

Berita Terkait