***
Putraindonews.com - Jakarta | Pengamat politik sekaligus pendiri Lembaga Survei Kedai Kopi Hendri Satrio menilai Megawati Soekarnoputri tidak akan sembarangan dalam menentukan siapa calon presiden yang akan diusung PDIP.
Ia berpandangan, Ketum PDIP pasti akan mencari sosok capres yang diusung partai berlambang Banteng itu berdasarkan dengan ideologi.
Baca JugaDasco Bantah Isu terkait Dirinya Bakal Jadi Cawapres"Berdasarkan catatan-catatan demi catatan, biasanya Megawati menentukan berdasarkan ideologi, bagaimana sih calon memiliki ideologi yang mirip dengan perjuangannya PDI Perjuangan," kata di Jakarta, Kamis (26/1).
Ia bahkan menyinggung Bung Karno, dengan menyebut sang tokoh Proklamator telah menyampaikan bahwa perjuangan di partai politik tujuan utamanya untuk membuat rakyat lebih sejahtera.
Baca JugaNama Seskab Teddy Diisukan Diperiksa POM?Menariknya, kata dia, hal itu pula lah yang menjadi ideologi PDIP, dengan terus memperjuangkan kesejahteraan rakyat, menjadi partai berlabel partai "wong cilik".
"Partai politik bukan semata-mata untuk kursi menteri bukan tentang untuk kekuasaan, bukan juga untuk kursi-kursi legislatif, perjuangan di partai politik ini untuk membuat rakyat menjadi lebih sejahtera," kata dia.
Baca JugaPresiden Prabowo Bakal Lakukan Evaluasi KabinetHendri pun meyakini, Megawati Soekarnoputri menentukan pilihan untuk calon presiden yang akan diusung PDIP pada Pemilu 2024 juga melihat apakah sosok kandidat memiliki ideologi tersebut atau tidak.
Jadi, menurut dia PDIP tidak berpegangan pada elektabilitas sosok kandidat semata. Buktinya, menurut Hendri untuk pencalonan Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah periode pertama saja, PDIP berani tidak berkoalisi dan saat itu mengusung Ganjar hanya memiliki elektabilitas sebesar 7 persen.
Baca JugaYusril Ungkap Kemungkinan Jokowi Diperiksa"Waktu Ganjar maju di Jawa Tengah elektabilitasnya itu hanya 7 persen, lawan Bibit Waluyo. Keputusan penting Bu Mega waktu itu adalah tidak mengajukan calon presiden berdasarkan hasil survei tapi berdasarkan penilaian ideologis," pungkasnya. Red/HS
***